Kamis, 01 Maret 2012

Akhir Hayat Rasulullah


Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, “Wahai ummatku… kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya, maka taatilah dan bertakwalah kepada-Nya, Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa yang mencintai sunnahku, berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dengan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya, Ustman menghela nafas panjang, Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua”. Keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu hamper selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat. Ali dan Fadhal dengan cepat menangkap Rasulullah yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba di luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “maaf ayahku sedang demam.” Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya, yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah. “Siapakah itu wahai anakku?” tak tahulah ayahku, orang yang sepertinya baru kali ini aku melihatnya.” Tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut.” Kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya. Malaikat maut dating menghampiri tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertainya.mkemudian dipanggillah jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril jelaskanlah apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua syuga telah terbuka lebar menanti kedatanganmu.” Kata jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega. Matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “kabarkan kepadaku bagaimana nasib ummatku kelak?” Jangan khawatir wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, “Kuharamkam syurga bagi siapa saja kecuali ummat Muhammad telah berada di dalamnya.” Kata Jibril.  Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril betapa sakitnya sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam. Ali yang ada di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal.” Kata Jibril.  Kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah! Dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada ummatku.” Badan Rasulullah mulai dingin kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. “Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatii.” Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang member sinaran itu. 

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa Salim ‘alaih…

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita…

Kami juga mencintaimu Ya Rasulullah…
Dan cinta itu, akan kami buktikan

1 komentar:

  1. Allahumma solli ala Muhammad..,

    mampir juga yc, artadza12.blogspot.com

    BalasHapus